ibnchannel.id – Perbincangan soal mikroplastik semakin menyoroti kemungkinan yang mengkhawatirkan: partikel plastik kecil ini mungkin menumpuk di otak manusia. Beberapa peneliti menduga bahwa mikroplastik ini dapat berhubungan dengan beberapa tantangan kesehatan mental dan kemunduran kognitif.
Setelah meninjau bukti dari publikasi terbaru, para ahli mendesak agar dilakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai bagaimana makanan olahan dapat memperkenalkan fragmen plastik ke dalam tubuh kita.
Salah satu ahli tersebut, Dr. Nicholas Fabiano dari Universitas Ottawa, menekankan potensi dampak kesehatan dari mengonsumsi sejumlah besar mikroplastik.
Bagaimana mikroplastik masuk ke dalam otak kita
Lingkungan kita penuh dengan puing-puing plastik, banyak di antaranya tidak terlihat oleh mata telanjang. Uji laboratorium berkualitas tinggi telah mengonfirmasi bahwa manusia terpapar melalui berbagai jalur, termasuk diet dan inhalasi udara.
Para peneliti mencatat bahwa begitu partikel ini memasuki aliran darah, mereka mungkin menemukan jalannya ke sistem saraf pusat kita.
Beberapa orang percaya bahwa kehadiran fisik fragmen plastik dapat mengganggu neuron dan proses biokimia dengan cara yang belum sepenuhnya kita pahami.
Makanan olahan dapat meningkatkan asupan plastik
Produk ultra-olahan sering melibatkan teknik industri yang dapat memperkenalkan lebih banyak elemen sintetis selama proses pembuatan. Para ahli percaya bahwa ini bisa menjadi sumber utama paparan plastik.
Upaya untuk mengukur konsentrasi plastik dalam makanan ringan populer telah menarik perhatian tentang bagaimana partikel dapat dengan mudah dikonsumsi secara rutin.
Banyak peneliti berharap bahwa indeks komprehensif akan memudahkan untuk mengetahui siapa yang paling berisiko berdasarkan kebiasaan makan.
Mikroplastik bertahan dalam tubuh
Pemeriksaan sampel darah dan jaringan menunjukkan bahwa potongan plastik kecil ini dapat bertahan di dalam tubuh untuk waktu yang tidak diketahui. Beberapa model laboratorium menunjukkan bahwa paparan kronis mungkin memicu peradangan lokal atau stres oksidatif di area sensitif, seperti otak.
Dalam salah satu upaya eksplorasi, para spesialis menguji apakah metode penyaringan darah tertentu dapat menghilangkan fragmen plastik dari sirkulasi. Meskipun hasilnya masih tentatif, pendekatan ini dapat membuka jalan bagi strategi penghilangan yang lebih terarah jika uji coba di masa depan mengonfirmasi efektivitasnya.
“Kami melihat bukti yang saling mendukung yang seharusnya membuat kita semua khawatir,” kata Dr. Fabiano, seperti dilansir earth.com, Senin 26 Mei 2025.
Beberapa profesional percaya bahwa kombinasi perubahan kebiasaan diet dan meningkatnya kontaminasi plastik memerlukan pedoman kesehatan masyarakat yang lebih baik.
“Yang muncul dari pekerjaan ini bukanlah peringatan. Ini adalah pertanggungjawaban,” tulis Dr. Ma-Li Wong. Pandangannya menekankan urgensi untuk menangani kontaminan yang tidak terlihat ini.***





