ibnchannel.id – Para ilmuwan terus berupaya menemukan cara membantu orang mempertahankan sirkulasi darah yang sehat seiring bertambahnya usia. Kini, penelitian menunjukkan strategi sederhana namun kuat: memenuhi kuota aktivitas mingguan tertentu.
Setelah menganalisis data secara menyeluruh, ahli epidemiologi Kirsten Bibbins-Domingo dari University of California, San Francisco (UCSF), dan rekan-rekannya menemukan bahwa banyak individu yang memulai hidup aktif namun kehilangan momentum saat memasuki usia paruh baya.
Penurunan aktivitas ini tampaknya meningkatkan risiko hipertensi, suatu kondisi medis yang ditandai oleh tekanan darah yang melebihi normal dan dapat menyebabkan penyakit jantung serta komplikasi lain.
Memahami tekanan darah
Hipertensi memengaruhi miliaran orang di seluruh dunia dan menjadi beban besar bagi kesehatan masyarakat. Kondisi ini berkembang saat tekanan darah terhadap dinding arteri tetap terlalu tinggi, sehingga dalam jangka panjang dapat merusak organ vital.
Jutaan orang hidup dengan hipertensi tanpa menyadarinya, sehingga sering disebut sebagai kondisi “diam-diam”.
Namun, begitu terdeteksi, olahraga dengan intensitas sedang hingga tinggi terbukti efektif menurunkan angka tekanan darah.
Tentang penelitian
Lebih dari 5.100 orang dewasa dari empat kota di AS berkontribusi dalam studi khusus tentang kesehatan jantung ini.
Para peneliti secara rutin melakukan pengukuran fisik dan memantau rutinitas olahraga setiap peserta selama tiga dekade untuk melihat bagaimana konsistensi aktivitas fisik memengaruhi tekanan darah di usia lanjut.
Di setiap tahap, peserta yang mencatat lebih banyak waktu berolahraga menunjukkan hasil sirkulasi yang lebih baik.
Mereka yang mampu melakukan lima jam olahraga sedang per minggu mengalami penurunan risiko hipertensi yang signifikan.
Target aktivitas yang penting
“Mencapai setidaknya dua kali lipat dari pedoman minimum saat ini bagi orang dewasa mungkin lebih bermanfaat dalam mencegah hipertensi dibandingkan sekadar memenuhi pedoman minimum,” kata Jason Nagata, pakar kedokteran remaja di UCSF, seperti dilansir earth.com, Minggu 8 Juni 2025.
Pernyataan ini memperkuat bukti bahwa berbagai jenis olahraga dapat membantu mengelola tekanan darah bagi mereka yang belum memiliki kondisi kardiovaskular lanjut.
Olahraga sedang membantu tubuh mengatur pembuluh darah dan hormon terkait stres.
Temuan ini menunjukkan bahwa menjaga konsistensi aktivitas, bukan berolahraga intens dalam waktu singkat, dapat membantu menjaga sistem kardiovaskular tetap stabil.
Olahraga bantu turunkan tekanan darah
Target lima jam per minggu yang disebutkan dalam studi ini bukan angka acak.
Ini sejalan dengan hasil dari tinjauan skala besar lain yang menunjukkan bahwa semakin banyak olahraga aerobik sedang (seperti jalan cepat atau bersepeda), semakin besar penurunan tekanan darah sistolik, terutama pada individu yang berisiko tetapi belum terdiagnosis penyakit kardiovaskular.
Tinjauan tersebut mencakup 435 uji klinis.
Hasil menunjukkan bahwa olahraga rutin menurunkan tekanan darah sistolik rata-rata 3,5 mmHg pada orang dewasa sehat dan 5,5 mmHg pada mereka dengan penyakit terkait gaya hidup, termasuk hipertensi.
Angka-angka ini penting karena bahkan penurunan kecil dapat secara signifikan mengurangi risiko stroke dan serangan jantung.
Perbedaan sosial dan rasial
Studi ini juga menunjukkan bahwa latar belakang ras dan sosial sangat memengaruhi kemampuan seseorang untuk tetap aktif secara fisik. Pada usia 40 tahun, aktivitas fisik menurun di kalangan pria dan wanita kulit putih, sementara pada pria dan wanita kulit hitam, penurunan terus berlanjut.
Pada usia 45 tahun, jumlah kasus hipertensi pada wanita kulit hitam melampaui pria kulit putih. Pada usia 60 tahun, sekitar 80-90% peserta kulit hitam hidup dengan tekanan darah tinggi, dibandingkan sekitar 70% pria kulit putih dan sekitar separuh wanita kulit putih.
Banyak orang menghadapi hambatan tersembunyi yang membuat sulit untuk tetap aktif seiring waktu. Jadwal kerja, lingkungan yang tidak aman, kurangnya akses ke taman, dan keterbatasan waktu semuanya berkontribusi terhadap penurunan aktivitas fisik, terutama di komunitas yang kurang terlayani.
“Meski remaja pria kulit hitam mungkin sangat aktif dalam olahraga, faktor sosial ekonomi, lingkungan, serta tanggung jawab kerja atau keluarga dapat menghambat kelanjutan aktivitas fisik hingga dewasa,” jelas Nagata.
Peneliti mencatat bahwa faktor sosial ekonomi dan lingkungan tidak diukur secara langsung dalam studi ini, namun kemungkinan besar memainkan peran penting.
Kebiasaan kebugaran yang konsisten
“Remaja dan mereka yang berusia awal 20-an mungkin aktif secara fisik, tetapi pola ini berubah seiring bertambahnya usia,” jelas Bibbins-Domingo. Di usia muda, banyak remaja dan pemuda bergerak aktif melalui olahraga dan kegiatan luar ruangan.
“Ini mungkin semakin berkurang setelah sekolah menengah atas ketika peluang untuk aktivitas fisik berkurang,” tambah Nagata. Pada titik tertentu, tanggung jawab hidup dapat mengganggu rutinitas olahraga.
Pihak kesehatan masyarakat sering menekankan pentingnya mendidik anak-anak dan remaja untuk mengadopsi gaya hidup aktif.
Peneliti dalam studi ini menyoroti bahwa pesan tersebut tetap penting dalam menjaga kesehatan jantung saat seseorang memasuki dunia kerja, menjadi orang tua, dan menghadapi jadwal yang padat.
Tekanan darah, olahraga, dan kesehatan jantung
Pedoman kesehatan saat ini merekomendasikan setidaknya 150 menit olahraga sedang per minggu bagi orang dewasa. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa melebihi batas tersebut memberikan manfaat yang jelas.
Menambahkan olahraga terstruktur atau aktivitas ringan seperti jalan cepat bisa menjadi langkah kuat untuk menurunkan risiko tekanan darah tinggi dalam jangka panjang.
Mempertahankan rutinitas olahraga yang konsisten membutuhkan perencanaan ekstra seiring bertambahnya usia. Namun, manfaatnya meliputi melindungi jantung, menjaga kelenturan pembuluh darah, dan meminimalkan dampak negatif stres kronis.
Konsistensi dalam aktivitas fisik memberi peluang untuk menurunkan kemungkinan hipertensi sebelum komplikasi serius terjadi.
Penelitian ini diterbitkan di American Journal of Preventive Medicine.***





