Quick Links:
Wednesday, 29 April 2026

Contact Info

  • ADDRESS: Street, City, Country

  • PHONE: +(123) 456 789

  • E-MAIL: your-email@mail.com

Some Populer Post

  • Home  
  • Dari Ajang ICTOH: Miris! Indonesia Satu Satunya Negara di Asia yang Belum Meratifikasi FCTC
- News

Dari Ajang ICTOH: Miris! Indonesia Satu Satunya Negara di Asia yang Belum Meratifikasi FCTC

ibnchannel.id – Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Prof. Seto Mulyadi, MSi, Psikolog atau yang akrab disapa Kak Seto, menyuarakan keprihatinannya terhadap lemahnya komitmen nasional dalam perlindungan anak, terutama dalam isu pengendalian tembakau. Ia menilai, baik masyarakat umum maupun pemimpin negeri ini masih abai terhadap bahaya rokok yang terus mengancam generasi muda. “Kesadaran dan komitmen […]

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Prof. Seto Mulyadi, MSi, Psikolog.

ibnchannel.id – Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Prof. Seto Mulyadi, MSi, Psikolog atau yang akrab disapa Kak Seto, menyuarakan keprihatinannya terhadap lemahnya komitmen nasional dalam perlindungan anak, terutama dalam isu pengendalian tembakau.

Ia menilai, baik masyarakat umum maupun pemimpin negeri ini masih abai terhadap bahaya rokok yang terus mengancam generasi muda.

“Kesadaran dan komitmen terhadap perlindungan anak masih sangat lemah, baik dari masyarakat maupun dari pimpinan. Sudah tahu rokok itu racun, tapi tidak ada aksi nyata. Seberapa besar kekuatan industri rokok sampai bisa menutup hati para pemimpin kita?” ujar Kak Seto usai acara Conference on Tobacco Control (ICTOH ke-10) yang digelar di Aula Fakultas Kedokteran UNUD Denpasar Selasa 27 Mei 2025 di Denpasar.

Kak Seto didampingi oleh Sumaryati aryoso ketua Tobacco control Support Center (TCSC) dan Sekjen Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Jowanda Harahap, juga menyoroti bahwa Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia yang belum meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), sebuah instrumen internasional pengendalian tembakau.

Menurutnya, inkonsistensi kebijakan di tingkat daerah semakin memperburuk situasi, di mana pergantian kepala daerah sering kali diikuti dengan perubahan arah kebijakan.

Ia mengajak semua elemen masyarakat untuk bergerak bersama, tidak hanya bergantung pada pemangku kebijakan.

“Melindungi anak itu perlu orang sekampung. Ini soal komitmen kita semua sebagai orang tua, calon orang tua, dan warga negara. Kalau industri rokok bisa kreatif dengan iklan-iklannya, kita juga harus lebih kreatif untuk melindungi anak-anak kita,” tegasnya.

Sementara itu, Jowanda Harahap, turut menyoroti lambannya implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024. Peraturan tersebut, yang salah satunya melarang penjualan rokok secara eceran, hingga kini belum terlihat realisasi di lapangan.

“Kami melihat tidak ada kejelasan implementasi. Padahal PP 28 sudah jelas melarang rokok eceran. Karena itu, kami terus kampanye lewat media sosial, podcast, dan berbagai ruang diskusi agar isu ini tetap dikawal oleh anak muda,” ujar Jowanda.

Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap berkembangnya produk baru seperti rokok elektronik dan vape yang semakin marak dan menjangkau anak-anak muda. Tanpa kolaborasi media, masyarakat, dan pemerintah, industri rokok akan semakin leluasa. Edukasi harus jadi prioritas,” tambahnya.

Peningkatan Prevalensi Perokok Usia Anak Signifikan
Dalam simposium tersebut sejumlah pembicara memberikan urun rembugnya seperti Prof Seto Mulyadi, Ni Luh Gede Yastini, Ketua Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah, Ayu Arini Dipta Septiana Duta Anak Nasional, dr. Ni Luh Sri Apsari, M.Biomed, SpA dengan moderator Anisya Aulia Lestari dari Lembaga Perlindungan Anak Indonesia.

Salah satu masalah yang dibahas adalah persoalan rokok yang begitu berdampak kepada masyarakat.

Berbagai risiko masalah kesehatan dapat ditimbulkan akibat asap rokok, seperti stunting, kanker dan lain sebagainya. Sangat disayangkan perilaku merokok ini tidak hanya terjadi di kalangan orang dewasa melainkan anak-anak dan remaja pun mengambil bagian di dalamnya.

Peningkatan prevalensi perokok usia anak sangat signifikan, dan cenderung sulit di hindari. Hal ini dikarneakan Anak dan remaja kerap menjadi target marketing industri rokok melalui selaga bentuk taktik promosi, iklan dan sonsor rokok yeng bertebaran dimana-mana.

Selanjutnya berkaitan dengan hal tersebut, maka Lembaga Perlindungan Anak Indonesia dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah berinisiatif untuk mengambil bagian dalam kegiatan Indonesia Conference on Tobacco Control (ICTOH ke-10 ini sebagai lembaga yang konsern dalam upaya pelindungan anak dan remaja dari bahaya zat adiktif (rokok) pada simposium 1 dengan tema “Mengawal Generasi Sehat Menuju Indonesia Emas: Memperkuat Lingkungan Tumbuh Kembang Anak melalui Implementasi Kebijakan yang Berpihak pada Anak”.***

About Us

Selamat datang di IBN Channel, pusat informasi, hiburan, dan berita yang selalu up-to-date! Kami menyajikan artikel dan video menarik tentang peristiwa terkini, review produk yang bermanfaat, hingga eksplorasi tempat-tempat unik yang wajib Anda kunjungi. Nikmati konten berkualitas yang dikemas dengan informatif dan inspiratif, hanya di IBN Channel.

IBN Chanel @2025. All Rights Reserved.