ibnchannel.id – Musik hadir di setiap budaya dan setiap individu. Nostalgia musik dan groove menjadi hal yang esensial untuk setiap orang. Jauh sebelum suara direkam, para leluhur kita sudah menabuh genderang, bertepuk tangan, dan bernyanyi — dan gerakan pun mengikuti. Dari tarian upacara hingga ketukan santai, ritme selalu menggugah tubuh manusia.
Hari ini, dunia menari bukan hanya untuk irama baru, tetapi juga lagu-lagu lama yang familiar. Campuran melodi, kenangan, dan gerakan ini disebut groove. Tapi apa yang benar-benar membuat kita bangkit dan menari? Penelitian terbaru menunjukkan faktor tak terduga: nostalgia.
Mengapa kita tergerak oleh musik
Groove lebih dari sekadar menikmati ketukan yang enak. Ia adalah dorongan psikologis dan fisik untuk bergerak. Ketika groove mengenai kita, tubuh merespons. Kita mengetuk kaki, mengangguk, atau mulai menari. Para ilmuwan menggambarkannya sebagai dorongan menyenangkan untuk bergerak mengikuti musik.
“Groove adalah dorongan menyenangkan untuk bergerak mengikuti musik. Saat kami mempelajari sistem motorik pada orang dengan dan tanpa gangguan gerak, otak mereka langsung aktif saat mendengarkan musik. Ini benar-benar berkaitan dengan aspek ritmisnya,” jelas Profesor Jessica Grahn, seperti dilansir earth.com, Jumat 6 Juni 2025.
Hingga kini, sebagian besar penelitian berfokus pada ritme, kompleksitas ketukan, dan tingkat keakraban. Namun studi baru dari Western University menunjukkan bahwa groove bukan hanya tentang pola. Ia juga menyangkut emosi, khususnya perasaan hangat dan manis-pahit dari nostalgia.
Kaitan antara nostalgia dan tarian
Penelitian ini melibatkan 102 partisipan berusia 23 hingga 28 tahun, kelompok usia yang dipilih untuk menangkap puncak nostalgia. Para peneliti memilih 40 lagu pop.
Dua puluh lagu adalah hits dari tahun 2010 hingga 2015, masa yang terkait dengan masa remaja peserta. Lagu lainnya dari 2018 hingga 2021 digunakan sebagai kontrol modern namun familiar. Setiap potongan lagu berdurasi 25 detik dan mencakup bagian chorus untuk meningkatkan pengenalan.
Partisipan menilai seberapa besar dorongan mereka untuk mengetuk, bergerak, dan menari mengikuti setiap lagu. Mereka juga menilai seberapa mereka menyukai lagu, mengenalnya, dan merasakan nostalgia.
Tim juga mengumpulkan data latar belakang musik dan tari setiap individu. Ini termasuk pelatihan tari dan paparan umum terhadap musik, menggunakan skala terverifikasi seperti Goldsmiths Musical Sophistication Index.
Lagu nostalgia meningkatkan keinginan menari
Hasil penelitian mengungkapkan hal menarik. Baik keakraban maupun nostalgia dikaitkan dengan skor lebih tinggi untuk mengetuk dan bergerak. Namun hanya nostalgia yang memprediksi dorongan untuk menari.
Lagu-lagu dari periode lebih awal memicu perasaan lebih kuat di semua kategori. Namun nostalgia menonjol dengan lonjakan tertinggi, yaitu perbedaan rata-rata 32 poin antara lagu lama dan baru.
“Semakin akrab Anda dengan sebuah lagu, semakin besar kemungkinan Anda menyukainya. Dan keakraban serta nostalgia sangat terkait, karena semakin Anda mengenal lagu, dan semakin Anda merasakannya, semakin besar kemungkinan lagu itu membawa Anda kembali ke momen istimewa dan membuat Anda ingin bergerak,” kata penulis utama studi, Riya Sidhu.
Lagu TiK ToK dari Ke$ha, yang memuncaki Billboard Hot 100 selama sembilan minggu pada 2009, menempati peringkat tertinggi dalam keinginan untuk menari. Lagu lain yang mendapat skor tinggi termasuk Uptown Funk dan Party Rock Anthem.
Sementara lagu-lagu lebih baru seperti Bad Guy dari Billie Eilish dan Don’t Start Now dari Dua Lipa meskipun familiar, tidak memiliki kekuatan emosional nostalgia.
Menari terasa berbeda dari mengetuk
Penelitian ini juga mengungkap penemuan penting lainnya. Mengetuk, bergerak, dan menari tidak setara dalam kaitannya dengan groove. Mengetuk mendapatkan skor rata-rata tertinggi, diikuti dengan gerakan umum. Menari mendapat skor terendah, yang awalnya mengejutkan para peneliti.
Namun menari mungkin memerlukan kesiapan sosial atau emosional yang lebih tinggi. Beberapa partisipan mungkin merasa malu untuk menari, bahkan di tempat pribadi.
Saat para peneliti menjalankan model statistik, nostalgia kembali menunjukkan kaitan kuat. Keakraban menjelaskan dorongan untuk mengetuk dan bergerak. Tapi tidak lagi memprediksi keinginan untuk menari ketika nostalgia dimasukkan dalam model.
Artinya, kandungan emosional dalam sebuah lagu, seberapa besar lagu itu mengingatkan pada kenangan pribadi, memainkan peran unik dalam membuat orang ingin menari.
Mengapa lagu nostalgia terasa kuat
Salah satu penjelasannya adalah tingkat gairah emosional. Lagu nostalgia mengaktifkan pusat penghargaan dan emosi di otak. Lonjakan gairah ini bisa membuat orang lebih mungkin bangkit dan bergerak. Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa musik dan memori sangat terkait.
Musik bisa memicu kenangan yang jelas, bahkan pada penderita gangguan memori. Ketika sebuah lagu mengingatkan seseorang pada masa remaja, efeknya lebih dari sekadar terdengar enak. Ia membangkitkan perasaan, waktu, dan versi diri mereka yang dulu.
Lapisan emosional ini memperkuat groove. Bukan hanya karena kita mengenali ketukannya. Kita juga mengenali siapa diri kita saat pertama kali mendengarnya. Rasa identitas yang mendalam ini mungkin alasan mengapa menari terasa lebih mudah dengan lagu-lagu lama yang bermakna.
Bagaimana pengalaman menari memengaruhi groove
Menariknya, pelatihan musik tidak berdampak nyata pada skor groove dalam penelitian ini. Tapi pelatihan tari justru berpengaruh.
Partisipan dengan pengalaman tari melaporkan dorongan lebih kuat untuk bergerak dan menari mengikuti musik. Ini menunjukkan bahwa mereka yang terbiasa menari lebih peka terhadap isyarat emosional dari musik.
Pelatihan tari mungkin mengurangi kecemasan sosial terkait gerakan. Juga dapat meningkatkan koordinasi motorik, sehingga menari secara spontan terasa lebih alami. Mereka yang tidak memiliki latar belakang tari mungkin hanya mengetuk kaki, namun ragu untuk menari sepenuhnya.
Lagu nostalgia mengubah kenangan menjadi gerakan
Implikasi penelitian ini melampaui lantai dansa. Terapi berbasis musik sudah digunakan untuk kondisi seperti penyakit Parkinson, di mana ritme dapat membantu fungsi motorik.
Penelitian ini menambahkan lapisan baru. Dengan memilih lagu-lagu yang memiliki makna emosional pribadi, terapis mungkin dapat meningkatkan hasil. Musik nostalgia bisa membantu pasien mengaktifkan kembali sistem motorik mereka secara lebih efektif dibandingkan lagu yang asing.
Penelitian ini memang berfokus pada orang dewasa muda, namun nostalgia akan semakin kuat seiring bertambahnya usia. Orang dewasa yang lebih tua mungkin merasakan respons yang lebih kuat terhadap musik dari masa mudanya. Penelitian lanjutan bisa mengeksplorasi perbedaan ini, terutama di konteks klinis.
Akhirnya, groove bukan hanya tentang ketukan enak. Ini tentang siapa kita saat pertama kali mendengarnya. Studi ini mengungkap bahwa nostalgia menyimpan kunci kuat untuk membangkitkan gerakan. Ia membangkitkan kenangan, memicu emosi, dan membuat tubuh bergerak dengan cara yang tidak selalu bisa ditiru oleh musik baru.
Penelitian ini dipublikasikan di jurnal PLOS One.





